keito okamoto

kingin


Oh My JUMP

They are jumping to my dream


[Hey Say Jump Fan-Fiction] : Virgo’s Blood (Middle Part)
keito okamoto
kingin
Title : Virgo’s Blood (Middle Part)
Cast : Hey Say JUMP
Genre : Drama, Supernatural, Boys-love, Multi Chapter
Warning : Ero Scene, Gore, Adult content, NC-13
Author : Suci Rahayu
Disclaimer : I just own the plot



A Man with Scar

Sebuah ruangan kosong yang luas. Walaupun ditengah-tengahnya terdapat akuarium dengan ikan-ikan kecil nan lucu, tetap saja terlihat janggal untuk menaruh sebuah hiasan seperti akuarium ditengah ruangan. Sementara diujung ruangan terdapat tumpukan-tumpukan berkas dan kertas yang menggunung rapi, diujung yang lainnya terdapat meja lengkap dengan kursi berputar yang terlihat nyaman, disandarannya tersampir mantel coklat kesayangan Inspektur. Disudut dekat jendela, terdapat akuarium ikan lain yang lebih kecil, tampaknya ia begitu menyukai lucunya ikan-ikan yang berenang dan tak tidur. Ikan bukan binatang yang ‘beristirahat’, seperti Inspektur yang tak kenal istirahat sebelum kasus yang ia tangani selesai.

Disudut dekat jendela itu Inspektur berdiri, memandangi gerakan gemulai ikan-ikannya sembari menjernihkan pikiran. Dia harus menjernihkan pikiran. Menenangkan diri setelah percekcokan ini-itu antara dirinya dan rekan kerjanya. Dirinya tak menduga bahwa suatu saat, pada suatu titik dalam karirnya Yuto akan setidak percaya ini padanya. Yuto bereaksi seolah dia bukan orang yang telah bertahun-tahun bekerja bersamanya. Apa mau dikata, ke-awam-an Yuto tak cukup meyakinkan cerita sang Inspektur.

Bukankah wajar jika orang yang belum melihat sendiri akan sulit percaya?. Apalagi jika tiba-tiba seorang inspektur mahsyur seperti Okamoto dalam kasus sepenting ini mengatakan hal tak masuk akal seperti yang mereka hadapi adalah vampire, dan meminta Yuto mencari seorang laki-laki yang beberapa tahun lalu ditemukan hampir meninggal di apartmentnya dengan bekas cakaran dan cabikan di seluruh badan hingga muka, lelaki yang menurut inspektur mengetahui sesuatu dan akan mempermudah strategi. Laki-laki yang menurut Yuto, tidak ada hubungannya dengan semua ini. Lelaki itu tinggal jauh dari kota, tinggal sendirian dipinggiran hutan, bagaimana mungkin semua ini ada hubungannya dengan kasus penculikan yang terjadi hanya beberapa minggu yang lalu?. Bukankah wajar jika Yuto meragukan analisa Inspektur?.

“Inspektur..”.

Bingung, dengan sedikit lega yang bercampur. Inspektur Okamoto tertegun saat melihat Yuto tiba-tiba muncul didepannya.

“Officer ?”.

“Aku membawakan apa yang kau minta”.

Makin kaget ia saat seseorang memasuki ruangannya. Seseorang dengan luka cakar diwajah, tentu saja itu luka yang nampak saja, sisanya ada dibagian yang tertutupi baju. Lebih parah dan mengerikan, walaupun hanya bekas luka yang sudah bertahun-tahun.

“Terimakasih telah mempercayaiku, officer”

“Jangan salah sangka. Aku masih belum mempercayaimu, Aku INGIN mempercayaimu. Dan aku juga ingin memahami jalan pikiranmu, memastikan kau tidak gila, eh? Inspektur?. Saat kau terbukti salah, aku siap menggantikan jabatanmu”.

“well, kuterima tantanganmu. Sekali lagi terimakasih, untuk berusaha mempercayaiku”.

Lelaki dengan bekas luka itu tak tampak kebingungan sama sekali tiba-tiba dibawa menemui seorang inspektur seperti ini. Dia dengan mantap membalas jabatan tangan Inspektur Okamoto dan memandang tepat pada kedua onyx Inspektur.

“Melihat bekas lukamu, kau jelas tau sesuatu, Tuan…”

“Hikaru Yaotome. Dan kau jelas tau banyak, Inspektur Okamoto”.

Inspektur mempersilahkan Hikaru menceritakan kronologi masa lalu bagaimana dia bisa mendapatkan luka seperti itu. Bukan binatang buas, sangat jelas bukan itu. Lagipula, dia ditemukan nyaris mati di sebuah apartment ditengah kota, binatang buas macam apa yang dapat seenaknya masuk apartment seseorang tanpa diketahui?. Dan menyerang manusia sampai terluka parah seperti itu?. Apa? Yang cukup kecil untuk memasuki jendela apartment namun juga cukup besar untuk hampir membunuh orang?. Kelelawar vampire ?. Bukan kelelawar, hanya vampire. Mereka bahkan tak butuh lubang sebesar jendela, ah..mereka bahkan tak butuh lubang sekecil lubang kunci.

Beberapa tahun lalu tetangga apartment Hikaru menemukan dirinya tergeletak tak berdaya didekat pintu. Sangat beruntung seseorang mencurigai cipratan darah dijendela yang dapat terlihat dari luar, lalu mendobrak masuk. Hikaru ditemukan nyaris mati dengan luka mengerikan . Semalam sebelumnya ia sedang bersama teman sekamarnya, mereka baru saja merayakan ulang tahun temannya yang ke-19, dengan kue buatannya dan lilin-lilin kecil yang tertancap rapi diatasnya. Kesenangan yang berubah kepanikan saat tiba-tiba badan temannya melemah tak wajar, kulitnya memucat dengan suhu badan sedingin es, terus-terusan mengerang kesakitan dan mengeluh jantungnya seperti ditusuk-tusuk. Bingung dan panik, dia hanya memeluk temannya erat diatas paru-parunya, pasrah saat tangannya digenggam erat hingga kuku-kuku melukai tangannya, dan miris saat namanya terus dipanggil-panggil tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.

Dia makin memeluk temannya erat-erat saat angin aneh mulai menyelimuti, hawa dingin menyeruak diseluruh ruangan. Untuk sejenak, dia berfikir Dewa Kematian datang untuk mencabut nyawa temannya. Yang benar saja, dewa kematian, cih. Kaget setengah mati, saat sesosok pria pucat datang dihadapannya, mendorongnya hingga terpental ke dinding, lalu merebut temannya dari pelukannya. Setengah mati ia melawan saat vampire itu menerkam leher temannya dan mendengar temannya mengerang kesakitan di dekapan sosok misterius vampire. Semua sudah ia lakukan hingga ia mendapatkan luka seperti itu, tak sadarkan diri. Hingga saat ia terbangun, ia tak pernah lagi bertemu dengan temannya. Hingga sekarang.

Officer Yuto sudah mendengar semua cerita pria ini. Reaksinya seperti “Makhluk seperti itu benar-benar ada?”. Tentu saja, dan mereka benar-benar bersembunyi, sehingga kita tak pernah melihat mereka, tapi mereka melihatmu. Hati-hati.

“Ulang tahun ke-19, darah mendingin, jantung sakit..hmm. Tuan Hikaru, kuberi tahu kau sesuatu..”. Inspektur member jeda yang dramatis. “Temanmu masih hidup”.

“Benarkah? Inoo?..”

“Dia, temanmu yang sekarang ini adalah setengah vampire. Dia tidak mati, mereka membawanya” Ujar Inspektur tanpa memberi nada kejut “Kalau aku bisa mempertemukan kau dengannya lagi, apa kau bersedia membantu kami? Sebenarnya kau sendiri yang akan menjemputnya pulang, berhasil tidaknya itu tergantung padamu”

"Tentu saja..!! bukankah ini lebih terlihat seperti kau membantuku daripada sebaliknya?"

Inspektur menghela nafas puas.

“Officer, tolong antarkan Tuan Hikaru ke kamarnya, kita akan bekerja siang-siang sekali”. Inspektur Okamoto tersenyum simpul. Senyuman puas, seolah dia sudah tau bahwa dia akan memenangkan kasus ini. Seperti biasanya. “Tak kusangka menemukan Tuan Hikaru sungguh akan sangat membantu. Dia seperti umpan untuk memancing umpan lain.”
---

Reunion

“Hei, Virgo..penderitaan hidup apa yang membuat darahmu semanis ini?”. Daiki, pagi-pagi sekali bahkan sebelum matahari berencana untuk terbit, dia sudah harus bangun, menutup semua tirai dirumah itu, memastikan tak ada cahaya matahari yang dapat menyusup masuk, menjaga peti-peti para tuannya yang sedang tidur siang.
Dia cukup senang, kurasa. Setelah beberapa minggu ini dia punya teman ngobrol. Walaupun sebenarnya Inoo si setengah vampire cukup sering bangun siang untuk memenuhi kebutuhan setengah manusianya, makan dan sinar matahari. Tetapi ada sesuatu yang membuat ia tak terlalu cocok dengan Inoo.

“Pahit seperti kau merasa mati itu lebih baik, mungkin. Atau menyesal karena telah dilahirkan”.

“Cih, seberapapun orang-orang diluar sana membencimu, para vampire menyukaimu. Lihat aku, dunia bahkan tak tau aku ada, para vampire menganggapku budak. Apa kau pernah merasa seperti kau hanya cemilan untuk dunia ini?”

“Cemilan untuk dunia ini?, Kemarin malam aku baru saja menjadi cemilan untuk para vampire. Rasanya sakit sampai kejantung. Menjadi cemilan untuk dunia pasti sangat berat”.

Daiki mengangkat satu alisnya. Sejenak ia berfikir, bukankah Virgo ini sangat polos?, atau sangat bodoh?. Atau sangat baik?. Dia terus memandangi badan si Virgo yang diikat semacam tali merah yang melilit disekujur tubuhnya, matanyapun ditutup.

“Sudah waktunya makan. Aku akan menyuapimu, tolong jangan menolak, nanti aku bisa dimarahi Tuan Yuya, nanti aku ditampar lagi. Kau akan menolongku kan?”. Dia mengenggam lembut tangan si Virgo. Chinen hanya mengangguk perlahan. “Baiklah, aku akan memanggil Tuan Inoo, dia juga akan makan bersama kita. Virgo, setengah vampire, budak..bukankah keberadaanku disini begitu rendah?.”

Daiki melenggang menyiapkan makanan untuk 3 anak manusia. Oh bukan, 2 setengah anak manusia, bukan 3, maaf. Sudah 2 hari Inoo belum benar-benar makan, dia hanya terus-terusan mendapat suntikan darah dari Yabu. Makan melalui leher. Itu seperti infus, mendapat asupan tanpa merasakan apapun dimulutmu,bukankah itu menyiksa?. Lidahnya pasti rindu rasa gurih, manis, atau apapun yang dapat menggoyang lidahnya, tak heran lahap sekali ia menyantap roti dan tuna yang dibeli Daiki tadi pagi. Begitupula si Virgo, dia menyantap lahap setiap roti yang disuapkan Daiki, sejurus kemudian ia meminta dilepaskan penutup matanya, retinanya butuh cahaya, kulitnya juga, dia pasti kedinginan 3 minggu disarang vampire yang gelap tanpa baju. Juga dengan keadaannya yang terikat, badannya pasti mulai pegal.

“Hei, bisakah kau juga melepaskan ikatanku? Aku tak akan kabur, aku janji, aku terlalu lemah untuk itu. Aku hanya ingin melakukan peregangan sebentar, aku juga ingin menggaruk beberapa bagian badanku, bekas gigitan vampire-vampire itu terasa gatal, gatal sekali”

“Sudah cukup dengan membuka penutup mata. Tali itu hanya bisa dilepaskan oleh salah satu dari mereka, itu terhubung dengan jantungmu. Kau bisa mati jika dilepas paksa”.

Chinen berhenti memohon.

“Inoo..! Inoo..!! keluarlah, aku tau kau disana, kau bisa mendengarku..Inoo…!!”. Suara itu mengagetkan 2 setengah anak manusia itu. Terutama Inoo yang merasa namanya dipanggil.

Tak ada yang mengerti kenapa ada manusia yang mengenal Inoo?. Inoo tak merasa pernah keluar selain untuk mencicipi sedikit cahaya matahari dan tak pernah berkomunikasi dengan manusia manapun. Sudah sejak lama sekali saat ia terakhir berbicara dengan manusia. Dia perlahan berjalan mendekati jendela, kepalanya melongok-longok kebawah memastikan prasangkanya yang baik dan buruk.

"Demi Tuhan..Dia?"

Ingin melompat saja dari jendela rasanya saat ia mendapati suara yang sedari tadi memanggil. Prasangka baiknya benar, yang buruk juga benar. Tanpa menghiraukan suara Daiki, ia tergopoh-gopoh menuruni tangga, lari menuju pintu lalu amblas dari pandangan Daiki.

“Hikaru..!!”. Inoo menubruk tubuh lelaki itu, lalu memeluknya dengan erat, seperti ia akan mati jika melepaskannya. “Bagaimana mungkin? Aku kira kau sudah..”.

Pelukan itu begitu erat, seolah jantung mereka mendengar detak satu sama lain. Pertemuan kembali yang disertai isakan terharu, setelah semua kalimat rindu karena lama tak bertemu, apalagi keduanya saling mengira kalau mereka telah dipisahkan kematian. Tak ada kata terdengar lagi, hanya entah siapa yang mulai, atau sejak kapan. Bibir mereka bertautan. Cukup lama, seakan diingatkan kembali rasanya yang mereka hampir lupa.

“Bagaimana kau bisa sekurus ini?. Hikaru, kau harus berhenti selalu lupa makan saat aku tak ada untuk mengingatkanmu..! Dan lukamu, itu pasti sakit sekali..Hikaru..”

“Ikutlah denganku, aku janji tak akan lama”. Potong Hikaru. Tentu saja itu membuat Inoo kaget tak karuan.

“Tapi aku..”

“Inoo, kumohon”

Inspektur Okamoto dan Officer Nakajima hanya memandangi dari kejauhan, dibawah pohon kenari yang rindang. Tersenyum menang lebih dari sebelumnya, menyusun rencana selanjutnya. Sementara sang officer kebingungan.

“Aku tak paham, jika memang itu sarang mereka, bukankah pasti Chinen didalam? Kenapa tak langsung saja mengambil Chinen?”

“Manusia tak memasuki sarang Vampire, Yuto. Mereka yang akan memenuhi undangan kita. Bungkus setengah vampire itu, aku mau membawanya pulang”.

Yuto menyipitkan matanya, masih tak paham dengan semua ini, tapi masih berusaha memahaminya. Ia akan mendukung semua yang dilakukan Inspektur, ia yakin inspektur punya rencana besar. Bahkan saat Inspektur diam, diam juga ia yakini sebagai rencana yang besar.

"Tak kusangka akan jadi semudah ini". Gumamnya seolah bangga dengan dirinya sendiri.

*TBC*

Hey Say JUMP fan-fiction : "Virgo's Blood"
keito okamoto
kingin
Title : Virgo’s Blood
Cast : Hey Say JUMP
Genre : Drama, Supernatural, Boys-love, Multi Chapter , +17
Warning : Ero Scene, Gore, Adult content, NC-17
Author : Suci Rahayu
Disclaimer : I just own the plot



Prologue

Ssst..matikan semua lampu, gantilah dengan cahaya lilin seredup mungkin, lalu duduklah melingkar, pastikan kalian saling berdekatan, kita tak mau mereka masuk kesela-sela kalian,kan?. Akan kuceritakan fiksi yang fakta. Sebaiknya kalian tau tentang mereka yang hidup tapi bersembunyi bersama kita. Pernahkah kalian bertanya mengapa malam begitu mencekam?. Purnama selalu memiliki aura mistisnya sendiri?. Karena saat itulah mereka keluar, dengan perut lapar dan tenggorokan kerontang, mencari minuman manis dan lezat yang mengalir ditubuh kalian. Darah..
---
The Inspector

Kota tengah waspada, setelah 3 minggu lamanya putra satu-satunya kepala polisi kota ini menghilang secara misterius. Begitu tiba-tiba, dan tak berjejak. Orang yang terakhir melihatnya bilang dia dibawa pergi angin entah kemana. Dengar, hanya karena kalian tak bisa melihatnya dan merasakan udara berdesir di tengkuk kalian, bukan berarti itu angin. Kecepatan mereka yang menyebabkan angin dingin dimalam hari.
Poster pencarian atas nama Chinen Yuri disebar diseluruh pelosok kota. Seorang inspektur ditunjuk untuk menangani kasus ini, inspektur yang paling disegani di kota karena kebaikan hatinya dan kepandaiannya dalam menangani kasus-kasus besar. Dengan perintah langsung dari sang kepala polisi dan ketakutan rakyat akan peristiwa ini, Inspektur Okamoto Keito bersumpah akan menyelesaikan kasus ini.
Dipasangkanlah ia dengan polisi muda berbakat yang dikenal memiliki keberanian dan tanggung jawab tinggi. Officer Nakajima Yuto, sudah berkali-kali bekerja bersama inspektur menyelesaikan kasus-kasus besar di kota. Sang inspektur mengosongkan peluru dari pistolnya, bertekat menyelesaikannya tanpa anak buah selain Yuto. Karena ia tau senjata tak akan berguna, ia tau ia tak sedang berurusan dengan manusia.
---
Royal Class

Mereka hidup bersembunyi di tempat tergelap dikota. Rumah mewah yang terabaikan disudut kota diujung jalan itu bisa jadi salah satunya. Ya, rumah kosong yang kalian lewati saat kesekolah itu, gelap, dingin, tak terjamah, mereka amat menyukainya . Berhati-hatilah saat melewatinya, atau kalau kalian cukup berani untuk memandang ke jendela kecil rumah itu dimalam hari, kalian akan tau ada mata yang mengawasi waspada.
Vampire hidup dalam kelompok keluarga. Beberapa dari mereka dengan kasta tinggi hingga menengah mempunyai seorang servant, seorang anak manusia yang jiwanya terikat dengan vampire karena sebuah perjanjian gelap dan keji dengan vampire yang menjadi majikannya. Seperti seorang pemuda bernama Daiki yang telah menjadi servant sejak usia sangat muda, bertugas menjaga peti-peti dingin tempat tidur para vampire, memastikannya tak ada yang membukanya sebelum matahari benar-benar terbenam. Selama lebih dari sekedar ‘selamanya’ dia akan menjadi servant vampire dari kasta Royal Class, vampire dengan kasta tinggi yang berketurunan langsung dengan vampire Lord.

“Manusia selalu harus tidur saat malam hari. Payah sekali”. Gumam Yuya, anggota royal class termesum sembari menyibak lembut poni Daiki si servant yang terlelap di petinya.

"Berhati-hatilah dengan perasaan seperti itu Yuya. Kau seharusnya belajar dari ayahku”

“Maksudmu jatuh cinta dengan manusia lalu melahirkan anak setengah vampire yang merepotkan royal class?. Cih, aku tak sebajingan dan senaif itu”.

“Yuya! Inoo! berhentilah bertengkar”. Hardik Yabu, sang pemimpin kelompok, vampire dengan ketegasan sekuat baja, kebijakan seperti naga dan setenang teratai air. Semua vampire yakin dia adalah kandidat terkuat vampire lord selanjutnya. “Tak ada yang boleh menganggu sakralnya waktu makan malam purnama”.
Disudut ruangan, anggota royal class termuda yang masih suka berbuat seenaknya sendiri, Yamada. Seolah tak peduli dengan pertengkaran yang sudah sering terjadi antara Yuya dan si setengah vampire. Dia diam memandangi makan malamnya dengan muka penuh selera, begitu lapar hingga ia meneguk ludahnya.

“Bisakah aku makan duluan?”. Katanya.
---
Blood of The Virgo

Makan malam pada saat purnama adalah sakral bagi semua kaum vampire. Terutama untuk Royal class, mereka mempunyai kebutuhan khusus purnama, menu makan malam spesial untuk menguatkan kekuasaan mereka sebagai Royal class. Menu makan terlezat bagi para vampire. Darah seorang Virgo.

Virgo adalah manusia dengan darah manis karena kepahitan panjang dalam hidupnya, berhati jernih karena tak terdapat dendam dalam dirinya, darah dari seorang murni Virgo yang perawan, akan lebih bagus jika bergolongan AB. Saat Virgo berusia 19 tahun, saat itulah darah Virgo menjadi sangat berharga bagi para vampire terutama royal class. Aroma tubuh Virgo pada fase ini dapat menggoda hidung vampire hingga puluhan mil jauhnya. Tapi Virgo hanya boleh menjadi santapan saat purnama. Bersabar untuk hal ini bukan hal yang mudah bagi para vampire.
Tiga minggu yang lalu, Yamada menangkap Virgo terbaik dikota, menyembunyikannya dimarkas untuk disimpan sebagai santapan purnama. Yamada yang berbakat berburu sejak muda ini sudah mengincar si Virgo sejak awal dia menemukannya, jauh sebelum si Virgo menginjak 19 tahun. Mengawasinya dari kejauhan, menjaga dirumahnya tiap malam saat ia tertidur, memastikan tak ada yang mengambilnya sebelum dirinya.

Virgo malang itu adalah pria yang paling dicari di kota, putra kepala polisi yang tengah gencar dicari. Chinen Yuri. Virgo dengan rating sempurna bahkan untuk royal class. Badan yang sempurna, detak jantung yang stabil dan kulit yang halus putih, menambah selera vampire manapun, seolah nadinya terlihat lebih jelas menonjol ke permukaan kulitnya. Dan aroma lembut embun mawar yang didapatnya karena ke-suci-an hatinya, membuat air liur vampire manapun menetes hanya dengan mencium aromanya.

“Kau yang menangkapnya, aku beri kau kehormatan untuk mencicipinya terlebih dahulu”. Jawab Yabu.
Yamada dengan tak sabar mendekati si Virgo, telebih dahulu menikmati halusnya kulit Virgo dengan jari-jarinya. Tangan kirinya menjambak rambut virgo kebelakang, menampakan wajah mulus putih yang tak sabar ia gores agar berdarah.

“Sebaiknya kau ingat peraturannya”. Sentak Yabu membuyarkan kenikmatannya.

“Ck, Aku tau. Leher hanya untuk pemimpin dan kau harus mendapat porsi ganda untuk si setengah vampire itu. Kau crewet sekali”.

Yamada bersiap menggoreskan kuku telunjuknya yang tajam ke pipi anak itu. Srrt..!! Dia menggoreskan tepat di samping bibir Virgo, membuatnya meringis kesakitan. Darah mulai menetes, bau manis dan sedap menyeruak, membuat Yuya harus menyeka air liurnya yang hampir menetes, sementara Yabu menghirup dalam-dalam aroma yang keluar. Begitu tak tertahankan.

Seperti tak kenal berhenti, Yamada menghisapnya dengan kalap hingga si Virgo malang terus merintih kesakitan. Yuya sampai harus menariknya agar Yamada berhenti.

“Dia bisa mati kalau kau hisap terus-terusan seperti itu..!!”.

“Ma-maaf, tak bisa berhenti sejak saat kau memulainya, cobalah sendiri”.

Yuya lebih suka menghisap langsung tanpa menggoresnya, dia bukan Yamada yang suka bermain-main, baginya akan sayang jika setetes saja darah berharga Virgo menetes sia-sia. Yuya benar-benar menyukai bagian yang berdenyut atau berdetak kencang, seperti dada kiri karena sangat dekat dengan jantung. Tiap detakan menyemburkan darah lebih kuat kerongga mulutnya, baginya itu sangat menyenangkan.

“Berhenti..kumohon, aaaaakh, sakit sekali..hentikan”.

Si mesum ini menyukai saat korbannya meronta, semakin kencang teriakannya, semakin Yuya berselera.

“Hmm..Virgo memang jelas berbeda”. Gumamnya sambil menjilat sisa darah dibawah bibirnya.

Saat tiba giliran Yabu, dia akan melakukannya dengan cara sangat bangsawan. Dia menerkam korbannya dari belakang, mengincar nadi di leher yang mengeluarkan aroma paling tajam, nadi paling besar dan tebal. Inoo tipe pencemburu, ia bisa sangat tidak suka dengan cara bangsawan Yabu yang terlebih dahulu menghirup dalam-dalam aroma Virgo, menciumi bahunya perlahan lalu naik hingga leher, menancapkan taringnya setenang teratai air, memastikan korbannya tidak terluka, lalu menghisapnya hingga puas. Lebih lama dari Yuya dan Yamada, pemimpin berhak mendapatkan porsi lebih, dan Yabu memang harus mendapat porsi lebih karena suatu keharusan ‘berbagi darah’ dengan Inoo, si setengah vampire.
---

The Half Vampire

“Menjijikan..!”. Ujarnya sembari hendak melangkah pergi. Tentu tak cukup cepat daripada Yabu yang dengan tangkas memegang pergelangan tangan Inoo untuk menghentikannya.

“Mau kemana? Berfikir untuk kembali ke masa lalumu? Kau tak bisa hidup tanpaku, ingat?Kau harus minum dari darahku, ingat?. Duduk dan tenanglah”.

Inoo diam. Tentu karena ia tak bisa berkata apa-apa.

Setengah vampire sudah pasti adalah setengah manusia. Dan layaknya penduduk Negara yang menggunakan 2 mata uang, mereka memiliki kebutuhan atas keduanya. Makanan dan darah, cahaya dan kegelapan, perhatian dan kesendirian. Setengah vampire seperti Inoo bisa jadi lahir karena hubungan terlarang vampire dan manusia yang terjebak cinta. Anak yang lahir dari hubungan ini akan berubah menjadi setengah vampire saat menginjak usia 19 tahun. Darahnya berubah dingin dan mulai menginginkan darah, walaupun setengah vampire tidak bisa mengkonsumsi darah secara langsung. Mereka harus mendapat ‘suntikan’ dari vampire yang pertama kali melakukan ritual ‘pertukaran darah’ dengannya. Dalam kasus ini, darah Yabu-lah yang mengalir dan menghidupi raganya. Dia harus terus bergantung pada Yabu untuk tetap hidup.
Setengah vampire akan terus melemah jika tak mendapatkan darah. Keberadaan setengah vampire berhubungan langsung dengan seluruh kaum vampire. Melemahnya tubuh setengah vampire dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan kekuatan para vampire. Inilah kenapa setengah vampire diangap merepotkan. Dia memegang kunci kelangsungan keberadaan para vampire. Sebagai seorang pemimpin, Yabu merasa dirinya yang paling wajib untuk menjaga benang merah para vampire walau harus selalu berbagi darah dengan Inoo. Konsekuensinya adalah, dia akanmenjadi vampire yang paling tak berdaya saat keadaan Inoo melemah. Anggap saja Yabu bertindak sebagai penebus dosa vampire ceroboh yang menghamili seorang manusia.

“Aku tak mau makan malam”. Protes Inoo.

“Jangan macam-macam..! ini purnama, kau akan merepotkan kami semua.!”. Bentak Yuya

“Setengah vampire memang merepotkan”. Tambah Yamada.

“Kalian semua diamlah”. Potong Yabu. “Inoo, jangan macam-macam. Kau akan makan malam ini, jangan seret aku kedalam masalah, ada kewajiban yang harus kupenuhi sebagai pemimpin. Berikan aku lehermu”.

Inoo menggeleng mantap.

“Kau..”. Tanpa banyak bicara, Yabu mendesak Inoo hingga terhimpit ke sudut ruangan, memaksanya sedemikian rupa hingga leher Inoo terbuka bebas, dia mencari nadi tertebal untuk menyuntikkan darahnya ke tubuh Inoo. Sejak awal taringnya menembus nadi Inoo, dan darah Yabu mengalir ke tubunya, semua vampire dipelosok negeri ini seolah terlahir kembali. Disinilah setengah vampire dianggap berguna untuk menyalurkan energy dari sang pemimpin kepada semua kaumnya. Apalagi menu malam ini adalah Virgo, bayangkan betapa seluruh vampire hingga kasta terendah dapat merasakan energi dari darah Virgo mengalir hingga ke ujung jari, sungguh sensasi purnama yang ditunggu. Semua vampire lantas mengagungkan nama Yabu.

“Egois sekali, kau jelas suka cara bangsawanku saat kulakukan padamu, tapi selalu marah saat kulakukan ke orang lain”.

“Hey, pak pemimpin penebus dosa”. Hardik Yamada. “Lakukan lanjutannya ditempat lain. Kau tidak mau vampire muda sepertiku melihat hal seperti itu,kan?. Jadilah kakak yang baik”.

Yabu menghela nafas. Sedikit sebal karena Yamada menganggu kesenangannya.

“masuklah ke peti-ku malam ini, aku akan menyusul setelah menemui dewan besar vampire”.

Inoo menurut saja,

“Yuya, pastikan Daiki bangun sebelum matahari terbit, suruh ia memberi makan cukup pada Virgo itu”. Perintah Yabu.

“Dan kau vampire muda, jangan hanya bisa berburu, kau harus belajar menghadapi dewan di rapat purnama, ikut aku”.

“Malasnya…! Aku tidak cocok dengan lingkungan seperti itu. Aku akan ngobrol saja dengan Virgo ini, aku yang sudah menjaganya bertahun-tahun, bolehkan?”.

“Terserahlah”.
---

*TBC*

NB : Virgo disini diambil dari kata 'Virgin' , tp virginnya sampe kedalem-dalem hati gitu maksudnya hehe. Dan kenapa saya pilih Chinen jd Virgo adalah karena Chii darahnya AB, kesannya kan jarang gitu, jd lebih special, dan Chii punya wajah 'memelas' yang cocok banget jadi Virgo.

Silahkan bertanya dimana Hika? kok ga nongol?. Nanti..di chapter selanjutnya, seperti khasnya saya, akan ada trion segitiga cemerlang HikaBuNoo kok. Ditunggu aja..

Disini pairingnya nyari sendiri, banyak soalnya, bisa comot sana sini kok hehehe.

[Hey Say JUMP fan-Fiction] HikaNoo : Tasty to The Bone
keito okamoto
kingin
155291_495031147227603_548074393_n (1)

Title : Tasty to The Bone (kayak iklan ayam goreng ya?)
Author : Suci Rahayu
Narration : Me
Cast : Hikaru Yaotome, Inoo Kei, Yabu Kouta
Genre : ero, pairing (HikaNoo), one-shot
Warning : Adult content, ero scene, +17, Boys Love

Bagaimana tak kelelahan, semalaman Inoo harus berkutat dengan aljabar dan aritmatika, pagi-pagi sekali harus sudah bekerja. Tak mampu lagi menopang tubuhnya, ia rebahan di sofa ruang ganti, bermaksud tidur sejenak mumpung sedang sepi.

Tak jelas kapan dimulainya, ditengah tidur lelapnya, ia merasakan keningnya disentuh lembut sebuah kecupan. Lembut sekali hingga ia tak mau bangun, meski kecupan itu terus bergerak turun ke mata, pipi, lalu dengan debaran hebat, kecupan itu menekan lembut bibirnya. Alih-alih terbangun, memejamkan matanya membuatnya lebih menikmati tiap desiran. Inoo tetap diam saat ciuman yang entah milik siapa itu memainkan bibirnya. Sementara sebuah tangan ia rasakan bergerilya membuka satu demi satu kancing bajunya. Bibir itu bergerak ke leher, dan cukup lama berhenti disitu, membuat darahnya berdesir hebat merasakan sensasi luar biasa yang ia rasakan seolah menembus sampai tulang. Telinganya dihujani hembusan nafas berat bergelora, seperti kompak mengimbangi nafasnya yang mulai erengah. Dia menggeliat, merubah posisi kepalanya, seperti menawarkan untuk mencicipi sisi sebelahnya.

Lembut sekali dan penuh cinta, bisikan terhembus ketelinganya yang sensitive..

“Inoo-chan, aishiteru..”

“Mmhhm..” Lenguhan kecil tak sengaja keluar dari mulutnya saat telinganya, bagian paling sensitive dari dirinya, digigit lembut. Membuatnya spontan membuka mata.

Ia temukan dirinya baru saja dibangunkan Yabu, kancing bajunya rapi. Apa kejadian seperti mimpi tadi benar-benar mimpi?. Sebagaimanapun ia mencari gerak-gerik aneh orang disekitarnya, seperti para member JUMP atau yang lainnya, tak satupun ia temukan mencurigakan. Siapa sebenarnya pemilik kecupan-kecupan lembut tadi?.

“Inoo-chan, ada bekas merah dilehermu”. Tanya Yabu

“Ah..! ini, engg..karena gatal aku menggaruknya sampai merah”.

Yabu hanya mengangguk tak puas penuh curiga.

Jika Yabu barusan bertanya, berarti bukan dia, sedikit kecewa, tapi siapa?

Inoo mati-matian mengatur nafasnya untuk bersiap berdiri didepan kamera.

“Inoo-chan, aishiteru..” . telinganya kembali menangkap bisikan itu. Dia menoleh kebelakang.

“HIKARU..!! itu tadi kau, kan?”

“Ssstt..! nanti orang-orang dengar. Lain kali aku ingin melumatmu sampai ke tulang”.

Inoo tersentak hebat.

“Aku akan memastikan kau melakukannya. Datanglah kerumahku malam ini”.

Hika tersenyum, lalu dengan percaya diri melingkarkan tangannya kepinggul Inoo, didepan kamera. Sementara Yabu menatap penuh tanya dari kejauhan.

-END-

Hey Say JUMP fan-fiction (OkaMori) : Rindu Rangkulan
keito okamoto
kingin
Title : Rindu Rangkulan
Cast : Morimoto Shintaro, Okamoto Keito and Morimoto Shintaro
Author : Suci Rahayu
Narrator : Morimoto Ryutaro
Disclaimer : I just own the plot
Genre : pairing, one-shot, friendship.

Aku merindukan tangan yang selalu merangkul pundakku, aku menginginkan itu kembali. Tapi 2 tahun sudah cukup untuk menghilangkan harapanku.
---
Aku tak pernah menyangka bahwa 2 tahun akan terasa lama dalam hidupku. 2 tahun dulu dan sekarang begitu berbeda, 2 tahun disisinya, dalam rangkulannya, dengan semua suara memuja, terasa begitu cepat berlalu. 2 tahun dalam kesendirian, keadaan yang terabaikan dan suara-suara memanggil kembali yang tak bisa kujawab, bahkan untuk sekedar menoleh. Tapi suara memanggil yang kuinginkan sebenarnya hanyalah suaranya, walaupun sampai sekarang tak kunjung kudengar. Apa kau mengabaikanku? Aku menunggumu merindukanku..apa 2 tahun tak cukup lama bagimu? Atau kau memang benar-benar telah mengabaikanku?. Nee, Keito..
---
Kubuka malas majalah diruang tengah. Hanya membuka-bukanya tanpa memperhatikan isinya. Jariku berhenti dengan ngilu pada suatu halaman, disusul rasa sesak tiba-tiba memenuhi dada.

“9, huh? Kau terlihat tidak keberatan soal itu dan okajima-okajima-an mu itu”. Gumamku

Rasa sakit itu masih menderu. Ibarat peluru yang menembus lebih dalam ke inti hidupku, tidak ada darah, tapi meninggalkan lebam biru yang kian menghitam. Mereka tak pernah mengungkiku lagi, di interview, atau dimanapun. Mereka tidak terlihat kehilanganku sejak saat itu. Tak peduli atau sudah lupa, aku tak tau yang mana.

“Kalau disitu cuma ada fotoku. Kalau mau lihat fotomu..ada dimajalah ini”. Kata adikku sambil membanting majalah kusut kedepanku.

“Apa masalahmu, Shintaro..!!”. Bentakku marah. Seperti biasa, dia tak akan menggubris dan hanya berlenggang santai kembali kekamarnya. Dia selalu membuatku marah.

Majalah itu. Kupungut perlahan. Aku tak paham mengapa aku masih menyimpannya walaupun aku tak pernah sanggup kembali melihat diriku sendiri dengan berita yang menghancurkan itu.
Aku ingat benar bagaimana Yuya membanting majalah itu kedepanku saat aku dan Keito sedang bermain PS. Persis seperti yang barusan Shintaro lakukan.

Semua berkerumun melihat isi majalah itu, yang isinya sangat membungkam mereka.

“Majalah ini tidak terlihat bohong, Ryuu. Tapi aku sangat berharap ini bohong”. Ujar Chinen polos.

Aku menggeleng, lalu hanya bisa tertunduk. Mereka semua memarahiku, sebagai si bungsu yang tak tau diri melakukan sesuatu seenanknya tanpa memikirkan yang lain, dan si kecil sok dewasa yang melakukan hal konyol. Memang salahku, karena itulah aku tak melayangkan bantahan sama sekali. Sekarang aku ingat kenapa aku menyimpan majalah itu, agar kejadian ini dapat menamparku setiap saat.

Paling menyakitkan saat mengingat bagaimana sang ayah JUMP menepuk pundakku dengan suara bergetar berkata “Bersiaplah untuk segala hal, berjuanglah atas apapun yang akan kau jalani”. Sementara aku dapat melihat Inoo terisak dan member lain memasang muka masam.

Hanya orang itu yang diam. Tak satupun kata keluar kecuali guratan kecewa dan takut di ujung matanya. Keito samasekali tak memandang kearahku, bakan ia tak membaca majalah itu. Maaf, semua rasa bersalahku karena mengecewakanmu.

“Teme..!!” Teriakku. Tak tahan lagi, kurobek halaman yang menampakan si bodoh aku sedang merokok. Kuremas gemas dan frustasi.

Aku keluar begitu saja setelah sebelumnya menyambar jaket hoodie dan scarf ku.

“Nii-san, kau mau kemana? Apa kau marah padaku? Nii-san maafkan aku..nii-san”. Shintaro memanggil dari kejauhan, aku tau dia masih mengkhawatirkanku walau sering membuatku marah. Tapi aku memilih untuk tak menoleh, mengencangkan hoodieku dan menaikan scarfku, memastikan penyamaranku sempurna.

Langkahku besar dan cepat, jantung yang marah ini yang memacu darahku mengalir lebih cepat dan lebih panas. Otakku sedang tak bekerja, aku tak tau lagi kemana atau dimana aku berpijak sekarang ini.

Deg! aku terkaget saat kurasakan pundakku ditepuk oleh seseorang, cukup keras, lebih seperti meremas. Membuatku spontan memutar tubuhku untuk melihat orang itu.

Kupikir itu Shintaro.

Tiba-tiba tubuhku merasakan kehangatan luar biasa yang pernah kukenal. Lengan-lengan yang memelukku erat, bahu ternyaman untuk bersandar. Aroma tubuh yang menenangkan. Siapa? Apa itu kau?. Tolong, aku tak berani menebak.

“Ryuu..aku sangat merindukanmu”

Tak sadar air mataku menetes mengotori bajunya. Aku masih tak berani menerka, tapi kehangatan seperti ini hanyalah milik orang itu. Kurasakan tulang dalam tubuhku seperti meleleh tiba-tiba. Menggigil ketakutan ditengah lengan-lengan kuat yang melingkat ketubuhku.

“Hey, kau benar-benar Ryuu,kan? Kau kurusan ya? Katakanlah sesuatu”. Lengan itu melepaskan pelukannya untuk melihat wajahku lebih jelas, membuka hoodieku dan menurunkan scarfku. Sehingga kami lebih jelas melihat satu sama lain.

Jangan katakana apa-apa. Tolong peluk aku lagi.

Dia memanggil namaku sekali lagi, dengan nada tak percaya dan suara yang hampir menangis. Kurasakan tangannya memenuhi pipiku. Jari-jarinya aktif bergerak menyapu air mataku yang kian deras.

“Ke..Keito-kun”

Dia lalu memelukku lebih erat lagi.

-END-

Hey Say JUMP Fan-fiction : "Air Langit"
keito okamoto
kingin
Title : Air Langit
Author : Me
Naration : Chinen Yuri
Cast : Hey! Say! 7 and Hikaru Yaotome
Genre : one-shot, friendship
Disclaimer : I just own the plot

Hari itu hujan lagi, hingga langit menjingga hujan tak kunjung reda. Sedikit menyesal aku telah melarang Yuto untuk menungguku pulang karena aku ada tugas piket. Aku lupa payungku dibawa Yuto, sekarang aku harus menunggu dan berteduh sendirian didepan gedung sekolah. Kalau tau akan hujan begini aku tak akan menyuruh Yuto pulang lebih dulu.

Tentu aku mulai menggerutu dalam hati, menunggu bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan, apalagi sendirian. Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari koridor , langkah kaki berlarian dan bercandaan beberapa laki-laki.

“Are?. Chii?”. Sapa si pria berambut coklat

“Yamada-san, Okamoto-san”.

“Panggil saja aku Keito”.

“Yama-chan, panggil aku Yama-chan,oke?”

“Ba..baiklah”. Jawabku canggung.

Aku memang sekelas dengan mereka, tetapi aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Mereka amat populer, Yamada dengan semua pesona di wajahnya dan Keito dengan kepintarannya dan bentuk badannya. Sedangkan aku begitu..tidak terlihat. Sehingga mengetahui mereka tau namaku sungguh suatu yang mengejutkan.

“Ayo pulang bersama kami”. Sahut Yamada sambil berlari menyusul Keito ke tengah hujan.

“eh? Aku tidak bawa payung”.

“Memangnya kami kelihatan bawa payung?”. Seru Keito.

Mereka lantas berlarian di tengah lapangan yang basah, berlarian kesana kemari bermain kejar-kejaran, sesekali mereka sampai terjatuh dan mengotori baju mereka, berguling-guling ditanah, seolah tak paham apa itu kotor dan basah. Mereka seperti bersinkronasi dengan hujan.

“Hey ayolah Chii, hujan hanyalah air langit!”. Seru Yamada dari tengah lapangan.
Apa? Aku hujan-hujanan?. Aku yang setiap upacara harus digotong ke UKS ini, aku yang harus duduk dipinggir lapangan melihat teman-teman saat pelajaran olahraga ini, aku yang sudah terlahir lemah ini, mana mungkin hujan-hujanan tanpa harus bolos sekolah esok harinya. Lagipula aku telah berjanji pada Yuto untuk tidak hujan-hujanan. Dia sahabatku sejak SD, dia yang selama ini menjagaku, hingga terkadang terasa seperti ayahku, melarangku ini-melarangku itu. Tapi aku tau itu karena dia ingin menjagaku.

“Ini menyenangkan lho”. Keito mengulurkannya tangannya hendak mengajakku. Pria kekar dengan senyum malu-malu yang khas ini berhasil merayuku untuk bergabung.

Aah..perasaan apa ini?. Baru pertama kurasakan yang seperti ini, menyenangkan rasanya membiarkan tubuhku disiram air langit sambil berlarian bersama mereka. Diriku yang selama ini bersembunyi dari langit, hari ini merasakan airnya. Sinkronasi yang kulihat dari Yamada dan Keito, aku kini merasakannya sendiri. Aku bersenang-senang.

“CHII..!!!”.

Suara itu mengagetkan kami. Kami semua berhenti bermain untuk menoleh ke sumber suara. Yuto ! dia berdiri dengan muka sebal didepan gerbang sambil membawa payung. Aku tak tau dia akan menjemputku. Ini gawat !.

“Yuto..ma-maaf”.

“Ah, kau pengawalnya Chii !. kau bergabunglah juga!!” Ajak Yamada.

“Aku bukan pengawalnya Chii..!! kalian tidak tau badan Chii lemah, kalian akan membuatnya sakit!”

“Ini menyenangkan lho!”. Keito mengatakan kaliamat itu lagi, seperti saat dia merayuku untuk bergabung. Tapi tak berhasil pada Yuto, meskipun sudah dikeluarkan jurus senyum malu-malunya. Akhirnya dia memutuskan untuk memaksa Yuto bergabung. Sekejap ia rebut payung Yuto dan membawanya berlari.

“Gorila nakal..! kalian dan bermain seenaknya, tingkah kalian seperti monyet lepas..!! terutama kau, kau gorilla nakal..!!”, Seru Yuto sambil berlarian. Sekarang dia lebih mirip ibu-ibu yang memarahi anaknya. Aku hanya tertawa melihat Yuto dikerjai seperti itu.

Tiba-tiba kurasakan tubuhku melemah, lututku bergetar. Aku berhenti sejenak untuk menyeimbangkan tubuhku, memastikannya baik-baik saja. Tanpa kusadari sebuah tangan yang hangat mendarat dikeningku.

“Chii..! astaga..kau payah sekali..! baru hujan-hujanan sebentar sudah demam”. Kata Yamada sambil memasang muka lucu yang menyebalkan.

Yuto berlari kearahku, membuat si gorilla berlari sendirian seperti gorilla lepas. Yuto mendorong tubuh Yamada hingga mundur beberapa langkah, lalu meraba panic wajahku.

“Tu kan..!! ini salah kalian, Chii jadi demam..!! ayo tanggung jawab..! “

“Ma-maaf…” Mereka tertunduk sambil bersenggol-senggolan satu sama lain.

“ka..kalau begitu kami akan mengantarnya pulang”. Sahut Yamada tiba-tiba.

Perkataannya barusan membuatku berdebar-debar, entah mengapa.

Keito menggendongku dipunggungnya, begitu lebar dan hangat. Atau aku yang terlalu kecil dan dingin?. Nyaman sekali, aku sempat berfikir untuk bisa tinggal dipunggung itu selamanya. Ada aroma sedap yang menyenggol hidungku saat aku menaruh kepalaku dibahunya, aku tak yakin, tapi mungkin bau mawar. Yamada berjalan mengiringi Keito sambil memayungiku, sementara Yuto tetap mengomel. Mereka semua berjalan tanpa payung diatasnya, hanya aku. Aku lemah. Tuhan, kau menciptakan makhluk yang lemah.

“Apa yang kau lakukan pada adikku, hah?!” . Mereka kena sembur kakakku sesampainya dirumah. Yuto mati-matian minta maaf karena merasa tak bisa menjagaku. Kakakku menyuruhnya harakiri.

“Hi..Hika-nii, tak perlu sampai menyuruh Yuto harakiri. Ini salahku, kau tak perlu marah pada mereka”

“Apanya yang tak perlu marah?. Hah?!”. Gertaknya sambil memukul pintu, membuat Yamada dan Keito tersentak. Yuto mungkin sudah biasa menghadapi kakakku yang galaknya minta ampun, tapi Yamada dan Keito jelas kaget.

“Ko-kowaii~”. Gumam Yamada

“Ini gara-gara kau mengajaknya hujan-hujanan. Kakak Chii ternyata seram sekali”. Balas Keito.

“Bawa kemari adikku..!!”.

Yah..aku harus turun dari punggung super nyaman itu.

Mereka hanya bisa tertunduk sambil menggaruk belakang kepala lalu pamit pulang setelah berkali-kali meminta maaf.

Esoknya aku memaksakan diriku berangkat sekolah, selain karena demamku sudah tak begitu tinggi, aku takut membuat mereka berdua merasa bersalah. Karena aku sendiri bersenang-senang saat itu.

Hujan datang lagi saat aku harus pulang sekolah. Aku diam sendirian didepan gedung sekolah menunggu Yuto tugas piket. Seperti Déjà vu atas hari kemarin, aku masih membayangkan senyum hangat Yama-chan dan senyum malu-malu Keito mengajakku bermain. Kalau bisa, aku ingin merasakan air langit membasahi tubuhku, sekali lagi.

“Pengawalmu mana?”. Tanya seseorang mengagetkanku.

Karena melamun aku tak sadar talah diapit oleh Yamada dan Keito.

“Yama-chan, Keito..? Bukankah kalian seharusnya hujan-hujanan?”

“Kalau kami bermain hujan-hujanan seperti kemarin kau akan ikut kami?”

Aku mengangguk mantap. Apapun untuk keceriaan seperti tempo hari..! meskipun harus sakit lagi.

“Kalau begitu kami akan disini saja bersamamu”. Sahut Yamada sambil tersenyum hangat padaku. Aku ingin bisa membungkus senyum itu untuk kubawa pulang.

“Tapi..kalian..”

“Begini juga menyenangkan lho”. Sahut Keito.

Air langit, saat ia datang, ia akan membuat suasana menjadi lebih menyenangkan. Baik saat ia menyiramku atau tidak, karena aku sadar bukan bagaimana tubuhku disiram air hujan dan terselimuti dingin waktu itu, tapi bagaimana aku berada bersama mereka, tersiram kebahagiaan dan terselimuti kehangatan. Terimakasih, Yama-chan, Keito.

-End-

Hey Say JUMP fanfiction : Cerita 3 Domba "Ibu Antar ke Gerbang Sekolah"
keito okamoto
kingin
Cerita 3 Domba "Ibu Antar ke Gerbang Sekolah"

Title : Ibu Antar ke Gerbang Sekolah
Cast : Yabu, Yuya, Daiki, Inoo
Genre : one-shot
N/A : Suci Rahayu




Anak itu melamun sambil melantunkan lagu sedih.

“Wasurewashinai yo, kimi to deatta ano hi wo, Sabitsuita mune no kagi wo sotto akete kureta”

Tertunduk ia dengan muka amat damai tapi juga amat prihatin. Menatap dua bola mata coklat itu seolah akan membuat hati tercabik .

Sudah sejak matahari terbenam tadi, tiga bersaudara yatim piatu ini duduk hening di ruang keluarga yang terlalu besar untuk jumlah mereka. Tidak ada komunikasi antar mereka, hanya si bungsu yang sedari tadi melantunkan lagu silih berganti dengan suara merdunya. Dipangkuannya, terlelap si anak tengah, lelap sekali, hingga tak terganggu ia walau sedari tadi si bungsu terus bermain dengan rambutnya. Sang sulung, kakak pekerja keras yang menyayangi adik-adiknya, hanya diam bersandar dibahu si bungsu. Suara dan lantunan itu seperti terus menuntun mereka kedalam keheningan sedih yang damai.

Sejurus kemudian, lantunan itu berhenti.

“Kenapa berhenti, dai-chan?”. Gumam Yuya sambil setengah tidur.

“Nii-san, aku lupa wajah ibu”. Ujarnya polos. “Yabu-nii, bisa tolong ceritakan lagi bagaimana ibu?”.

Pria yang dipanggilnya Yabu itu membelai perlahan rambut Daiki. Memaksa membentuk lengkungan di bibirnya, berusaha membendung air diujung matanya.

“Ibu kita..”. Suaranya bergetar “cantik, matanya seperti punyamu. Indah sekali”.

“Aku masih tidak ingat. Yuya-nii, bisa kau ceritakan?. Kau yang terakhir kali melihat ibu, kau pasti ingat”.

Yuya tetap diam, tetap berpura-pura terlelap nyaman dipangkuan Daiki.
---

Bagaimana mereka bisa sesendiri itu, bagaimana mereka bisa semenderita itu?. Semua berawal dari hari yang tak pernah mereka sangka. Siapa yang sangka jika siang yang cerah dapat mengawali kelam hidup 3 domba kecil ini?. Mereka masih sangat kecil waktu itu, Yabu si bungsu hanya anak SD kelas 4 sedang Yuya kelas 1. Daiki kecil masih sangat manja dan riang, dia selalu ingin menggandeng tangan kakak-kakaknya kemanapun, dan para abang senang sekali mencium gemas pipi gendut Daiki.

“Tolong jaga rumah, Ibu pergi sebentar”

Sebentar. Kata Ibu.

Yabu ingat betul pesan ibu untuk menjaga adik-adiknya dan jangan keluar rumah hingga ibu kembali. Diluar, badai lebat seperti malam ini. 3 domba kecil ketakutan ini hanya bisa saling menjaga, memegang erat ujung selimut sementara tangan lainnya saling bergandengan.

Lama hingga badai berhenti, ibu belum kembali.

Seseorang datang membawa kabar,

Ibu pergi untuk selamanya.

Hanya Yuya yang cukup tegar untuk datang kepemakaman. Yabu memilih menjaga perasaan Daiki.

Hingga mereka beranjak dewasa, Yabu adalah sang ayah, juga sang ibu. 3 domba malang ini tetap menggigil ketakutan saat badai datang, tapi saat mereka berusaha memunculkan bayangan ibu dalam pikirannya, tak ada yang mereka lihat selain bayangan Yabu. Selama itukah ibu pergi?.

“Dai-chan..!!”. Sahut Yabu sehabis pulang kerja, sangat terburu-buru masuk rumah dan mencari adiknya “Besok kau akan pergi ke sekolah..!!”. Betapa antusias suaranya, sambil mengenggam erat kedua bahu Daiki.

“Se..sekolah..!!”. daiki terlihat riang, matanya melebar. Tapi sejenak, mukanya berubah masam “Tapi, aku tak mau kesekolah”

“Dai-chan, kau harus sekolah, kau akan punya teman disana”. Bujuk Yuya.

“Tapi teman-teman akan diantar ibunya sampai gerbang. Dan bagaimana kalau guru bertanya bagaimana wajah ibuku?aku tak akan bisa menjawabnya, lalu aku akan dihukum”.

Kedua kakak terdiam. Mereka juga tak tau jawabannya.

“Permisi…”. Sebuah suara terdengar dari luar.

“Inoo-kun..!! ada apa?”. Kaget benar Yabu melihat temannya tiba-tiba datang sore begini.

“Aku mengantarkan barangmu yang ketinggalan, aku pikir ini penting buatmu”.

Mereka mempersilahkannya masuk dengan ramah. Lama tak kedatangan tamu membuat mereka canggung, pada akhirnya Inoo yang justru menyiapkan teh dan makan malam untuk mereka semua. Dengan penuh ikhlas dan cinta Inoo menyiapkan makanan, sambil sesekali bercanda. Ruangan yang biasanya hening itu seketika menjadi hangat, roh sebuah keluarga seperti baru saja dihembuskan ditengah-tengah mereka.

“Ibu..!!” Suara Daiki mencekat semua orang “apa ibu itu sepertimu? Aku ingat saat ibu membuatkan makanan untukku sambil bercanda. Ibu pasti sepertimu..! Ibu..!”. Dia riang.

“Dai-chan, apa kau akan pergi kesekolah kalau Inoo-kun..maksudku ibu akan mengantarmu?”.

“Yuya..! Jangan seperti itu..!”. Hardik Yabu lalu meminta maaf pada Inoo.

Laki-laki itu tak terlihat keberatan, tapi Yabu jelas merasa tidak enak. Malam berlalu dengan kehangatan menyelimuti mereka. Daiki menahan Inoo pulang sehingga dia harus menginap.

“Dai-chan..Dai-chan bangaunlah”. Jemari lentik itu membelai rambut Daiki perlahan. “Kau harus pergi kesekolah hari ini”.

“Tapi aku tidak mau kesekolah, nanti teman-teman akan..”

“Aku akan mengantarmu”. Ujar Inoo seraya tersenyum tipis.

Daiki dengan senang hati bersiap kesekolah, berkaca berkali-kali memastikan seragam dan dasinya rapi. Didepan gerbang sekolah, langkahnya meragu.

“Bagaimana kalau guru bertanya bagaimana wajah ibuku?”

“Begini saja, karena aku sudah mengantarmu sekolah, anggap saja aku ibumu, bagaimana?”.

“Kalau begitu aku akan menjawab ibuku punya senyum indah, jari yang lentik dan sangaaat cantik, ibuku juga
pandai memasak dan menyayangi semua orang dirumah”.

Dengan harapan yang diberikan malaikat itu, Daiki melenggang riang kesekolah.

END

ga ada Hika..maap ya Hika ya..uwuwuwuw. Hika kan lagi ada disebelahku bantuin nulis #dorr

I own nothing except the fanfiction. Picture credit to the right person.

Keito no Eyes
keito okamoto
kingin
Hajimemashite...!! Hello, all of you who are in journey to become Mrs. Okamoto :D.
Here is Suci Rahayu, Yoroshiku Onegaishimasu..masu..masu~

Nee..I'm Okamoto Keito ichibanners level up to 100000%. I know that there are so many girls out there also love him that much. Especially those eyes, right?. But not only those eyes that make us love him, we can see that he has so many adorable thing on him. For those who can find it out (the adorable thing of Keito), just enjoy it, okay? :D

Ah..!! I remember someone said to me "Keito-kun always get a little portion of spotlight". Yes, he does. But think about that, he still always gift his best for us, right?. That's a new level of professionalism for me. The fact that he is increasing, try his best and keep trying are some proof that he care about us nee?. He think about his fans out there. I'm proud of him. *let's give him appreciation for that*.

Because of that, let's gather the love for him here.

I love to make fanfiction, private opinion, and screen-cap of Keito-kun. I also love to know yours :D.

Oh BTW, I forget to say that I'm OkaJima shippers, Sometimes I like OkaYama, OkaDai (Keito-kun with Dai-chan is quit close to each other), and OkaChii seems about good too. How do you think?.

Feel free to give a reaction and mole (comment). I'll happy to get so many mole..hahaha (I started to think that sounds weird). More mole, more love..

Thank You and Enjoy..

(you can use English or Bahasa here).

-Suci-
Tags: ,

?

Log in